oleh

Halaqah Fiqih PCNU PASBAR Dihadiri Imam Besar Masjid Istiqlal

-BERITA-1962 Dilihat
PASBAR | SUMBAR TODAY Pengurus Nahdlatul Ulama (NU) Cabang Pasaman Barat menyelenggarakan Halaqah Fiqih  Peradaban bertemakan Fiqih Siyasah dan Tatanan Dunia Baru  bagi Warga Nahdliyin , pada Rabu (9/11/2022) di Pondok Pesantren Al Muttaqiin Situmang Salingka Muaro, Kecamatan Sungai Aur kabupaten Pasaman Barat, Sumbar.
Ketua PCNU Pasaman Barat, H. Nasrullah Sudirman menyebutkan, kegiatan ini adalah program PBNU yang dilaksanakan di beberapa pondok pesantren sebagai bentuk peran serta ulama, dan ikut merumuskan fiqh peradaban global yang akan dihelat pada tahun depan, dalam rangka menyambut satu abad Nahdlatul Ulama.

Tampil sebagai narasumber Wakil Rois Syuriah PBNU, Prof. Nasaruddin dan akwan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof. Dr. Asasriwarni, MH, Imam besar Masjid Istiqlal Jakarta Prof. Nasaruddin Umar, dan Dr. Zawil Huda, SH, SPdi, MA. sebagai moderator acara.

Halaqah peradaban dihadiri lebih dari 100 peserta dari pengurus PCNU, MWCNU, Ranting NU dan Badan Otonom NU. Dipilih dari para ulama dan tokoh agama yang selalu ikut mengurus ummat di Pasbar.

Pada sambutannya Ketua PCNU Pasbar Nasrulloh, LC, MPd menjelaskan Halaqah Peradaban ini diadakan di 250 titik di seluruh Indonesia.

“Alhamdulillah PCNU Pasbar dapat satu titik. Halaqah harus dilaksanakan dari pesantren yang ada di pusat kota sampai pelosok daerah. Tujuannya agar  Nahdlalul Ulama dan agama ikut menjadi penentu dalam percaturan dunia pada ranah sosial, ekonomi dan budaya” pungkasnya.

“Acara ini dibuat sebagai program PBNU pusat yang dibuat setiap didaerah. Untuk ikut sertanya para Kiyai daerah merumuskan fikih peradaban global yang akan dibuat pada tahun 2023 kedepan. Dalam rangka menyambut satu abad Nahdlatul Ulama yang telah berkiprah di Indonesia dan Internasional.

Sementara Nasaruddin Umar menjelaskan Fikih peradaban itu untuk merekontruksi Fikih islam kedalam konteks zamannya. Agar selalu hidup pada ranah publik kemanusiaan dan ranah Internasional.

Agar paham tentang tujuan Syariat yang lima. Diantaranya memelihara jiwa, agama, harta, dan lainnya ” Kata prof Asasriwarni.

Islam itu mesti ikut mengatur jalannya sejarah dunia. Sehingga islam lewat NU bukan hanya mengurusi ibadah, tapi juga mengurus dunia yang kita hidup diatasnya. Kalau tidak demikian, maka pihak lain yang mengatur dunia yang sering zalim dan jauh dari nilai islam.

Islam dan negara akan terus bersatu bahu membahu dan bersimbiotik mesra untuk  tugas mulia , yaitu dalam arti mengangkat harkat kemanusiaan yang betul betul berperadaban di Indonesia ini.

Menurut Asasriwarni, secara tegas Islam tidak menjelaskan sistem pemerintahan yang islami. Buktinya, ketika di zaman Nabi sistem pemerintahan teokrasi, di zaman sahabat teodemokrasi, di zaman dinas Umayyah, Abbasiyah dan Turki Usmani dengan sistem monarki.

Mengutip dari ayat An-Nisa ayat 59, An-Nisa ayat 58 dan As Syuro ayat 38, maka sudah dapat disebutkan bahwa pemerintah yang islami tersebut bila dijalankan tiga hal. Yakni taat kepada ajaran agama, amanah dan syuro. Di Indonesia ketiga hal itu sudah dijalankan. Artinya sudah sesuai dengan pemerintahan yang islami,” kata Asasriwarni guru besar UIN Imam Bonjol Padang ini.

NU hadir sebagai lembaga keagamaan yang menjaga tradisi-tradisi ulama terdahulu yang bermazhab, yakni Imam Syafii, Maliki, Hambali dan Hanafi.

Moderator Dr. Zawil Huda, SH, SPdi, MA menambahkan, Sehingga islam menjadi soko guru untuk peradaban dunia .

“Dengan cara merekontruksi dan mereposisi Fikih klasik ke dalam bingkai zamannya yang kontektual yang dinamai dengan fikih hadoroh atau fikih peradaban. ” kata Zawil Huda, yang juga selaku wakil ketua PCNU Pasbar dan juga menjabat selaku ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pasbar dibidang Fatwa dan Hukum.

Sehingga Pancasila dan NKRI sudah merupakan bentuk negara yang terbaik di masa ini ,yang sebenarnya dalam banyak sisi sudah islami.

Para ulama itu menyebarkan Islam dengan penuh kedamaian, bagaimana menjaga kedamaian, tidak melalui peperangan. Termasuk penyebaran Islam di nusantara dilakukan dengan penuh kedamaian.

Islam yang diajarkan ulama terdahulu yang dilanjutkan oleh Nahdlatul Ulama, bagaimana selalu mengajarkan Islam dengan akhlakul karimah, santun, juga dengan akulturasi budaya masyarakat setempat.

Sehingga banyak tradisi dan persentuhan budaya setempat dengan umat Islam di nusantara yang hingga kini masih dilakukan.

Di Sumatera Barat, di Minangkabau misalnya dikenal dengan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS SBK) yang sudah masuk hukum positif, yakni UU no. 17 Tahun 2022 tentang Provinsi Sumatera Barat  Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

Halaqah juga dihadiri juga oleh  Wakil Bupati Pasaman Barat Risnawanto, Ia mengapreasi PCNU Pasbar memang untuk ummat dan bangsa.

“Selaku Pemerintahan Daerah Pasbar, Kami senang akan peran dan kontribusi Nahdlalul Ulama yang sudah sangat hebat dan  berjasa sekali kepada bangsa Indonesia yang besar ini.

Peradaban manusia yang modern memang mesti di atur dengan agama. Jika tidak, dunia akan mengalami depisit moral dan minus nilai. Tentu akan berbahaya bagi bangsa dan dunia jika peradabannya menuju anti tuhan dan anti agama.

(Dodi Ifanda)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed