oleh

Gelombang Mahasiswa Sumbar Menggema di Kantor Gubernur, BEM KM Universitas Adzkia Teriakkan Aspirasi May Day dan Hardiknas

-BERITA-30 Dilihat

PADANG, SUMBAR | Langit Kota Padang siang itu terasa berat. Ribuan langkah mahasiswa memadati ruas jalan menuju Kantor Gubernur Sumatera Barat, membawa semangat yang tidak sekadar seremonial. Momentum May Day dan Hari Pendidikan Nasional menjadi alasan kuat bagi mereka untuk turun ke jalan, menyuarakan keresahan yang selama ini mengendap.

Di antara barisan massa, kehadiran Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Adzkia tampak mencolok. Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam BEM KM Adzkia hadir dengan semangat kolektif, dipimpin oleh Wakil Presiden Mahasiswa Dandi bersama Satria Perdana selaku Menteri Luar Negeri, yang juga menjadi penanggung jawab massa dalam aksi tersebut.

Aksi ini bukan sekadar unjuk eksistensi. Para mahasiswa membawa amarah yang terakumulasi dari berbagai persoalan daerah. Isu buruh yang menuntut kehidupan layak, persoalan pendidikan yang dinilai belum merata, hingga infrastruktur yang dianggap masih timpang menjadi bahan orasi yang menggema di sepanjang aksi.

Sejak pukul 14.00 WIB, mahasiswa mulai memadati area depan kantor gubernur. Terik matahari sempat menyengat, seakan menguji ketahanan mereka. Namun, kondisi itu tidak menyurutkan semangat. Bahkan ketika hujan turun di sore hari, barisan tetap bertahan, suara orasi terus terdengar lantang hingga menjelang petang.

Ketegangan mulai terasa ketika mahasiswa menunggu kehadiran pimpinan daerah yang tak kunjung muncul. Harapan untuk berdialog langsung dengan gubernur dan wakil gubernur berubah menjadi kekecewaan. Waktu berjalan, namun pintu pertemuan tetap tertutup.

Situasi memanas saat sebagian massa mencoba merangsek masuk ke dalam area kantor gubernur. Aparat kepolisian yang berjaga berusaha menahan laju mahasiswa, hingga terjadi aksi dorong-dorongan yang tidak terhindarkan. Dalam situasi tersebut, satu orang demonstran dilaporkan pingsan akibat kelelahan.

Di tengah ketegangan, perdebatan antara mahasiswa dan pihak di dalam kantor gubernur sempat terjadi. Mahasiswa menilai adanya upaya penguluran waktu agar pimpinan daerah tidak menemui mereka. Hal ini memicu kemarahan yang semakin membesar di tengah massa aksi.

Satria Perdana dalam orasinya menegaskan bahwa aksi ini merupakan bentuk tanggung jawab moral mahasiswa terhadap kondisi daerah. Ia menyayangkan sikap pemerintah provinsi yang dinilai tidak responsif terhadap aspirasi rakyat. Menurutnya, mahasiswa datang membawa mandat masyarakat, namun tidak mendapatkan ruang dialog yang layak.

Pernyataan itu disambut riuh oleh massa aksi. Bagi mereka, kehadiran di jalan adalah bentuk nyata dari demokrasi yang hidup. Mereka percaya bahwa suara mahasiswa adalah bagian dari kontrol sosial terhadap jalannya pemerintahan di Sumatera Barat.

Aksi yang berlangsung hingga sekitar pukul 18.00 WIB itu akhirnya ditutup tanpa adanya pertemuan langsung dengan gubernur maupun wakil gubernur. Meski demikian, semangat mahasiswa tidak surut. Mereka justru menegaskan bahwa perjuangan belum selesai.

BEM KM Universitas Adzkia bersama aliansi mahasiswa lainnya menyatakan akan kembali menggelar aksi lanjutan dalam waktu dekat. Tuntutan yang belum tersampaikan secara langsung akan terus diperjuangkan hingga mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah.

Di penghujung aksi, langit mulai gelap dan massa perlahan membubarkan diri. Namun, gema tuntutan masih terasa di udara. Hari itu menjadi penanda bahwa suara mahasiswa masih menjadi denyut penting dalam perjalanan demokrasi daerah, dan bahwa perjuangan untuk perubahan tidak akan berhenti hanya dalam satu aksi.

TIM

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed