oleh

Aktivis Pergerakan Tidak Dapat Tempat Pemilu 2024, Pengikut Oligarki Berkuasa

Oleh Labai Korok Piaman

Semua gerakan perlawanan menuju kebaikan yang dilakukan para aktivis(true believer) akan menemukan jalan buntu. Karena di antara kelompok mereka, ada yang ideologis, pragmatis dan takut akan penderitaan yang lama atau kurang sabar atas apa yang belum diraih”(Eric Hoffer,1902-1983).

Situasi itu sekarang sudah dialami para aktivis pergerakan ranah Minang, para aktivis sudah berada dijalan buntu dimana para aktivis pergerakan oportunis dan pragmatis sudah bersekongkol dengan oligarki lokal, menyebabkan para aktivis pergerakan berada ditepi lingkaran kekuasan dan sebagai pelengkap.

Sedangkan oligarki dan pemilik modal yang didorong memegang tampuk kekuasaan atau mendapat jabatan yang saat ini mulai membangun jaringan, karter sesama oligarki dan membentuk kekuasaan monarki dimana ayah, anak, ibu, keluarga dekat menguasai posisi kekuasan dan pirantinya.

Sekarang tidak hal anek diranah Minang atau Sumatera Barat satu keluarga berada disatu partai politik atau beberapa partai politik yang jabatannya dan posisinya sama. Sehingga keberadaan aktivis pergerakan yang lahir dari kampus-kampus dan masuk ranah publik berada dipinggiran, hanya sebagai follower dari oligarki.

Realitas dilapangan sekarang terlepas dari belikat pergerakan dari bawah (mass), munculnya kelompok-kelompok oligarki dan pemegang jabatan yang mengandal kuasa modal, sains dan teknologi industri, kegelisahan pergerakan aktivis yang tumbuh dari kandungan “baby boomers” bahkan generasi-Z plus milenial yang kagok dengan fitur-fitur medsos, tak mudah bagi para aktivis manapun untuk mengkonsolidasi pemupukan kuasa modal yang sedang dikendalikan oleh kekuatan anonim oligarki.

Sekarang Penulis mengajak para aktivis pergerakan kembali melihat sejarah bahwa terbangunnya rezim yang membuat kemudaratan itu dari Oligarki, nepotisme dan Kong kalingkong sebagainya yang merusak, itu yang sama diruntuhkan.

Penulis mengingatkan ulang memori di era pra-revolusi angkatan 80-an atau generasi bunga(flower generation) seperti dalam lagu Scott McKenzie, ambang revolusi pada pergerakan “musim semi Praha(Checo), Tiannarnmen, revolusi Mullah(Iran), “musim semi Kairo”, “Tahrir Istanbul” hingga paling mutakhir “revolusi Mahasiswa”(Reformasi) “revolusi ulama”(212) dan pergerakan “white collar” di Hongkong. Semua diperjuangkan oleh para aktivis.

Sekarang di momen pemilu tahun 2024 akan datang, para aktivis pergerakan kembali tampil dengan masuk kesemua lintas partai, dengan tujuan memberikan warna nilai mulya perjuangan dan pergerakan bangsa ini menuju keadilan, kemakmuran yang dibawah ridho Allah SWT.

Cukup sudah para aktivis memanjakan dan menyerahkan kekuasaan kepada oligarki, memanjakan pemilik modal atau orang kaya diberi jabatan dan pangkat. Sekarang semua para aktivis bersatu bahwa perubahan dan tertanamnya nilai-nilai tersebut hanya ada ditangan para aktivis yang memiliki foto polio yang panjang menjadikan negri ini Madani[*].

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed